Home About Me Disclaimer

بسم الله الرحمن الرحيم

Beranda  ›  Islam  ›  Muslim

KESAKSIAN ORANG MUSLIM PADA JANAZAH SESEORANG

 

KESAKSIAN ORANG MUSLIM PADA JANAZAH SESEORANG

KESAKSIAN ORANG MUSLIM PADA JANAZAH SESEORANG

ﻗَﺎﻝَ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪُ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ : ﺃَﻳُّﻤَﺎ ﻣُﺴْﻠِﻢٍ ﺷَﻬِﺪَ ﻟَﻪُ ﺃَﺭْﺑَﻌَﺔٌ ﺑِﺨَﻴْﺮٍ ﺃَﺩْﺧَﻠَﻪُ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔَ ﻓَﻘُﻠْﻨَﺎ ﻭَﺛَﻠَﺎﺛَﺔٌ ﻗَﺎﻝَ ﻭَﺛَﻠَﺎﺛَﺔٌ ﻓَﻘُﻠْﻨَﺎ ﻭَﺍﺛْﻨَﺎﻥِ ﻗَﺎﻝَ ﻭَﺍﺛْﻨَﺎﻥِ ﺛُﻢَّ ﻟَﻢْ ﻧَﺴْﺄَﻟْﻪُ ﻋَﻦْ ﺍﻟْﻮَﺍﺣِﺪِ ‏( ﺻﺤﻴﺢ ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻱ)

Rosululloohu Sholalloohu'alaihi wa Salaam, Bersabda: 

“Tiadalah Empat Orang Muslim Bersaksi Bahwa Jenazah Seorang Itu Orang Baik, Maka Allooh Masukkan Ia Ke Surga”, Maka Kami Berkata : Bagaimana Jika Cuma Tiga Orang Yg Bersaksi?, Beliau Shollalloohu'alaihi wa Salaam Bersabda : “Walau Tiga”, Lalu Kami Berkata : Jika Cuma Dua?, Beliau Shollalloohu'alaihi wa Salaam Bersabda : “Walau Dua”. Lalu Kami Tidak Bertanya Jika Hanya Satu” (Shohih Bukhori)

Telah Kita Dengar Hadits Nabi Muhammad Shollalloohu'alaihi wa Salaam, Tiadalah Seorang Muslim yang Wafat Lalu Dipersaksikan oleh 4 Orang Muslim lainnya bahwa Ia Orang Baik maka Alloohu Ta'aalaa Memasukkannya Menjadi Penduduk Surga. Maka Para Sahabat terperangah dan kaget, apakah cukup dengan 4 Orang saksi saja menyaksikan Seseorang itu baik maka Ia masuk Surga? Para Sahabat penasaran dan bertanya kembali, “kaifa bitsalaatsah..? bagaimana kalau cuma 3 Orang wahai Rosulullooh?” maka Beliau Shollalloohu'alaihi wa Salaam pun bersabda “walaupun 3 orang”. Lalu sahabat bertanya lagi “bagaimana kalau cuma 2?” Rosulullooh menjawab “ wa itsnain” walaupun cuma 2 Orang yang bersaksi bahwa Ia Orang baik, Alloohu Ta'aalaa masukkan Ia ke Dalam Surga” dan Para Sabahat berkata “Kami tidak menanyakan bagaimana kalau cuma 1 yang menyaksikannya”.

Demikian riwayat Shohih Bukhori, maka riwayat ini teriwayatkan beberapa kali di Dalam Shohih Bukhori dengan Sighah (Ucapan) yang sama. Ketika di Masa Kholifah Umar bin Khoththob Rodhiyalloohu'anhu Saat itu lewatlah Jenazah Seseorang dan Para Sahabat berkata bahwa “Orang Ini Orang Yang Baik” maka berkatalah Umar bin Khoththob memang sepantasnya Ia mendapatkan Surga. Lalu lewat Jenazah kedua, Para Sahabat berkata “Ini Orang Yang Tidak Baik” maka berkatalah Umar bin Khoththob yaitu “Pantas Baginya Kehinaan Neraka”. Para Sahabat bertanya, maka Umar bin Khoththob meriwayatkan Hadits Ini lalu ada tambahannya : “antum syuhada’ullah fil ardh” Kalian adalah Saksi–saksi Allooh Di Muka Bumi. Menunjukkan dari bentuk kemuliaan hadits ini bagaimana eratnya hubungan Muslimin – Muslimat, satu sama lain menyaksikan kebaikan Saudaranya maka itu menjadi Dalil yang kuat baginya di Hadapan Alloohu Ta'aalaa untuk diselamatkan dari Kemurkaan-Nya. Semakin Banyak Orang mempersaksikan Ia berbuat baik di Muka Bumi maka semakin kuat bahwa Ia kelak akan masuk Surga-Nya Alloohu Ta'aalaa.

Dalam Kitab Shohih al-Bukhori yang diriwayatkan dari Anas bin Malik Rodhiyalloohu'anhu dengan redaksi:

ﺣﺪﺛﻨﺎ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻌﺰﻳﺰ ﺑﻦ ﺻﻬﻴﺐ ﻗﺎﻝ ﺳﻤﻌﺖ ﺃﻧﺲ ﺑﻦ ﻣﺎﻟﻚ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ ﻳﻘﻮﻝ : ﻣﺮﻭﺍ ﺑﺠﻨﺎﺯﺓ ﻓﺄﺛﻨﻮﺍ ﻋﻠﻴﻬﺎ ﺧﻴﺮﺍ ﻓﻘﺎﻝ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭ ﺳﻠﻢ ‏( ﻭﺟﺒﺖ ‏) . ﺛﻢ ﻣﺮﻭﺍ ﺑﺄﺧﺮﻯ ﻓﺄﺛﻨﻮﺍ ﻋﻠﻴﻬﺎ ﺷﺮﺍ ﻓﻘﺎﻝ ‏( ﻭﺟﺒﺖ ‏) ﻓﻘﺎﻝ ﻋﻤﺮ ﺑﻦ ﺍﻟﺨﻄﺎﺏ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ ﻣﺎ ﻭﺟﺒﺖ ؟ ﻗﺎﻝ ‏( ﻫﺬﺍ ﺃﺛﻨﻴﺘﻢ ﻋﻠﻴﻪ ﺧﻴﺮﺍ ﻓﻮﺟﺒﺖ ﻟﻪ ﺍﻟﺠﻨﺔ ﻭﻫﺬﺍ ﺃﺛﻨﻴﺘﻢ ﻋﻠﻴﻪ ﺷﺮﺍ ﻓﻮﺟﺒﺖ ﻟﻪ ﺍﻟﻨﺎﺭ ﺃﻧﺘﻢ ﺷﻬﺪﺍﺀ ﺍﻟﻠﻪ ﻓﻲ ﺍﻷﺭﺽ.

Abdul Aziz bin Shuhaib berkata, Aku mendengar Anas bin Malik berkata: Mereka dilewati Jenazah kemudian Mereka Memuji Kebaikan Jenazah tersebut, lalu Nabi Shollalloohu'alaihi wa Salaam Bersabda: Wajib (baginya). Kemudian lewat Jenazah yang lain namun Mereka membicarakan kejelekkannya, lalu Nabi Shollalloohu'alaihi wa Salaam Bersabda: Wajib (baginya). Umar Rodhiyalloohu'anhu Bertanya: Apa Yang Wajib? Nabi Shollalloohu'alaihi wa Salaam Menjawab: Kalian Memuji Kebaikan Jenazah Ini Maka Wajib Baginya Surga dan Kalian Membicarakan Kejelekkan Jenazah Ini Maka Wajib Baginya Neraka. Kalian adalah Saksi-saksi Allooh Di Muka Bumi Ini .

Juga diriwayatkan dari Abi al-Aswad Rodhiyalloohu'anhu, masih dari Hadits Imam Bukhori, dengan redaksi hadits sebagai berikut:

ﻋﻦ ﺃﺑﻲ ﺍﻷﺳﻮﺩ ﻗﺎﻝ : ﻗﺪﻣﺖ ﺍﻟﻤﺪﻳﻨﺔ ﻭﻗﺪ ﻭﻗﻊ ﺑﻬﺎ ﻣﺮﺽ ﻓﺠﻠﺴﺖ ﺇﻟﻰ ﻋﻤﺮ ﺑﻦ ﺍﻟﺨﻄﺎﺏ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ ﻓﻤﺮﺕ ﺑﻬﻢ ﺟﻨﺎﺯﺓ ﻓﺄﺛﻨﻲ ﻋﻠﻰ ﺻﺎﺣﺒﻬﺎ ﺧﻴﺮﺍ ﻓﻘﺎﻝ ﻋﻤﺮ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ ﻭﺟﺒﺖ ﺛﻢ ﻣﺮ ﺑﺄﺧﺮﻯ ﻓﺄﺛﻨﻲ ﻋﻠﻰ ﺻﺎﺣﺒﻬﺎ ﺧﻴﺮﺍ ﻓﻘﺎﻝ ﻋﻤﺮ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ ﻭﺟﺒﺖ . ﺛﻢ ﻣﺮ ﺑﺎﻟﺜﺎﻟﺜﺔ ﻓﺄﺛﻨﻲ ﻋﻠﻰ ﺻﺎﺣﺒﻬﺎ ﺷﺮﺍ ﻓﻘﺎﻝ ﻭﺟﺒﺖ . ﻓﻘﺎﻝ ﺃﺑﻮ ﺍﻷﺳﻮﺩ ﻓﻘﻠﺖ ﻭﻣﺎ ﻭﺟﺒﺖ ﻳﺎ ﺃﻣﻴﺮ ﺍﻟﻤﺆﻣﻨﻴﻦ ؟ ﻗﺎﻝ ﻗﻠﺖ ﻛﻤﺎ ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭ ﺳﻠﻢ ‏( ﺃﻳﻤﺎ ﻣﺴﻠﻢ ﺷﻬﺪ ﻟﻪ ﺃﺭﺑﻌﺔ ﺑﺨﻴﺮ ﺃﺩﺧﻠﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺠﻨﺔ ‏) . ﻓﻘﻠﻨﺎ ﻭﺛﻼﺛﺔ ﻗﺎﻝ ‏( ﻭﺛﻼﺛﺔ ‏) . ﻓﻘﻠﻨﺎ ﻭﺍﺛﻨﺎﻥ ﻗﺎﻝ ‏( ﻭﺍﺛﻨﺎﻥ ‏) . ﺛﻢ ﻟﻢ ﻧﺴﺄﻟﻪ ﻋﻦ ﺍﻟﻮﺍﺣﺪ.

Dari Abi al-Aswad Dia berkata: Aku datang ke Madinah ketika sedang terjadi wabah peyakit dan Aku duduk berdekatan dengan Umar bin Khoththob. Kemudian ada Jenazah yang lewat dimana Orang-orang membicarakan Kebaikan Jenazah tersebut. Umar berkata: Wajib baginya. Kemudian ada Jenazah lagi yang lewat dan dipuji-puji atas Kebaikannya. Umar pun berkata: Wajib baginya. kemudian lewat Jenazah yang Ketiga dimana Orang-orang membicarakan Kejelekkan Jenazah tersebut, Umar berkata: Wajib baginya. Abu al-Aswad berkata: Aku bertanya, apa yang Wajib wahai Amirul Mukminin? Beliau menjawab: Aku Berkata Seperti Perkataan Nabi Shollalloohu'alaihi wa Salaam: “Muslim Mana pun Yang Dipersaksikan Kebaikannya oleh Empat Orang maka Allooh akan Memasukkannya ke Dalam Surga, Kami bertanya: Bagaimana kalau Tiga Orang, Beliau menjawab: Atau Tiga Orang, Kami bertanya lagi: Bagaimana kalau Dua Orang, Beliau menjawab: Atau Dua Orang. Kami tidak bertanya Bagaimana kalau Satu Orang.

Yang dimaksud dengan kata “wajib” dalam hadits ini adalah Sebuah Ketetapan atau Bagaikan Sebuah Keharusan Terjadinya, artinya Alloohu Ta'aalaa Menetapkan Surga Bagi Orang Yang Dipuji atas Kebaikannya dan Neraka Bagi Orang Yang Disebut-sebut Kejekelekannya, bukan Wajib dengan arti Sebuah Keharusan karena Hal tersebut Mustahil bagi Alloohu Subhana wa Ta'aalaa, Bagi-Nya Tidak Ada Yang Wajib, Semua Terserah Atas Kehendak-Nya. Apabila ada Orang diberi pahala itu adalah Murni Anugerah dari-Nya dan ketika Ia disiksa itu adalah sebagai Bentuk Keadilan-Nya.

Menurut Imam Badr al-Din al-`Ayni, Pujian yang terucap dari Jama'ah adalah sebagai bukti bahwa perbuatan-perbuatan yang dilakukan Mayit semasa hidupnya adalah baik sehingga layak baginya Surga. Sedangkan penilaian jelek dari Jama'ah kepada Mayit itu sebagai tanda bahwa perbuatan-perbuatan yang dilakukannya selama hidup adalah jelek, maka layak baginya Neraka. Karena Orang Mukmin adalah sebagai Saksi bagi Mukmin yang lain seperti yang dipaparkan dalam Hadits di Atas.

Menurut Imam al-Daudi, yang dimaksud dengan Jama'ah adalah Orang-orang yang Memiliki Keutamaan (Orang Yang Bertakwa) serta Kejujuran dalam bersikap, bukan Orang-orang yang suka maksiat ( Fasiq ) karena bisa jadi Mereka akan memuji kepada Sesamanya atas perbuatan yang sebenarnya tidak baik menurut Agama. Dan penilaian baik Mereka terhadap Sesamanya tidak dianggap sebagai kesaksian Seorang Muslim kepada Muslim lainnya. Mereka bukanlah Orang-orang yang dimaksud dalam hadits di Atas. Begitu juga tidak dianggap kesaksian Seseorang yang terjadi permusuhun antara Dia dengan Mayit karena permusuhannya itu akan membawanya pada penilaian subjektif yang sesuai dengan hawa nafsunya maka persaksiannya tidak diterima, bahkan bisa jadi Ia akan menilai Seorang `Alim yang Sholih tapi tidak cocok dengannya, sebagai Orang yang tidak baik.

Ketika Jama'ah menganggap Mayit adalah Orang yang baik padahal kenyataannya Ia adalah Pelaku Maksiat (mungkin ketika melakukan maksiat secara sembunyi-sembunyi sehingga tidak ada Orang yang mengetahuinya), apakah kesaksian Jama'ah itu berpengaruh dan sebagai bukti bahwa mayit ini diampuni dosanya? Sebagian Ulama mengatakan bahwa penilaian Jama'ah harus sesuai dengan kenyataan dan keluar dari Orang-orang Baik ( Ahlu al-Fadl ) bukan penilaian kosong dari ketidaktahuan dan bukan pula karena berpura-pura. Namun Ulama lain mengatakan bahwa penilaian baik dari Jama'ah apabila keluar dari Hati yang terdalam bukan karena dibuat-buat, itu sebagai pertanda bahwa Mayit itu meninggal dalam keadaan baik (meskipun ketika hidup sering melakukan maksiat) dan penilaian Jama'ah terhadapnya adalah Ilham dari Alloohu Subhana wa Ta'aalaa bahwa Alloohu Ta'aalaa telah mengampuni dosanya dan Dia termasuk Ahli Surga.

Dalam pertanyaan di Atas apakah boleh atau tidak mempersaksikan Mayit dengan cara Dikomandoi oleh Salah Seorang dari Jama'ah itu Hukumnya Boleh ( mubah ) alasannya karena tidak ada larangan terhadap praktek tersebut. Meski begitu bisa jadi itu adalah sebagai doa dan harapan agar mayit termasuk golongan Orang baik dan bisa masuk Surga. Sesuatu Yang Tidak Dilakukan Oleh Rosululloohu Sholalloohu'alaihi wa Salaam Kemudian Kita Adakan Sekarang Tidak Selalu Berarti Perbuatan Itu adalah Bid`ah. Contohnya seperti Kita membayar Zakat Fitrah dengan Beras, Rosulullooh tidak pernah mengeluarkan Zakat dengan Beras tapi Bukan Berarti Mengeluarkan Zakat dengan Beras adalah Perbuatan Bid`ah.

Kemudian, Apakah Persaksian Yang Dikomandoi itu berpengaruh kepada Mayit atau Tidak? Hal ini tergantung apakah penilaiannya benar-benar keluar dari Hati Nurani Jama'ah atau karena sekedar tidak enak sama yang lain/Keluarga Mayit. Apabila benar-benar keluar dari Hati yang jujur maka akan berpengaruh kepada Mayit karena itu berasal dari Petunjuk dari Alloohu Ta'aalaa yang Diilhamkan kepada Mereka sedangkan apabila karena tidak enak maka penilaian baiknya tidak berpengaruh bahkan penilaian ini tidak boleh karena berbohong.

Sebagian Ulama mengatakan bahwa yang dimaksud dengan kata “Kalian” dalam hadits adalah Sahabat-sahabat Rosululloohu Sholalloohu'alaihi wa Salaam karena Merekalah Orang-orang yang berbicara dengan Hikmah (Kejujuran) dan juga Orang-orang yang Beriman yang Memiliki Sifat Seperti Sahabat. Apabila ada Orang bertanya, mengapa diperbolehkan menyebut-nyebut kejelekan Mayit padahal ada Hadits Shohih yang diriwayatkan dari Zaid bin Arqom yang melarang mencela Mayit dan hanya diperbolehkan menyebut-nyebut kebaikannya? Jawabannya adalah Larangan dalam hadits tersebut ditujukan kepada selain Orang Kafir, Munafik, Pelaku Bid`ah, dan Orang Fasik yang terang-terangan melakukan Kefasikannya dan Kebid`ahan. Adapun menyebut kejelekan Mereka tidaklah dilarang bahkan dianjurkan Agar Orang-orang Menghindari Kejelekan-kejelekan yang Mereka lakukan dan Tidak Mengikutinya.

Kesimpulan :

Penilaian Baik kepada Mayit dari Orang-orang yang Memiliki Keutamaan adalah sebagai Tanda bahwa Mayit meninggal dalam Keadaan Baik.

Penilaian Jelek kepada Mayit dari Orang-orang yang Memiliki Keutamaan adalah sebagai Tanda bahwa Mayit meninggal dalam Keadaan Tidak Baik.

Pernyataan dari Jama'ah tidak akan berpengaruh kepada Mayit apabila tidak keluar dari Hati Nurani.

والله أعلم بالصواب،

والحمد لله رب العالمين.

Sumber Rujukan:

- Al-`Asqolani, Ibn Hajar, Fath al-Bari, Dar al-Misr, Mesir, 2001.

- Al-Bukhori , Abu Abdillaah Muhammad bin Ismail, Shohih al-Bukhori , (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 2009

- Al-Mubarokfuri, Muhammad Abdurrohmaan bin Abdurrohiim, Tuhfah al-Ahwadzi , Dar al-Hadits, Kairo, 2001

- An-Nawawi, Muhyiddin, Shohih Muslim , Dar al-Hadits, Kairo, 1994


KESAKSIAN ORANG MUSLIM PADA JANAZAH SESEORANG

KESAKSIAN ORANG MUSLIM PADA JANAZAH SESEORANG


Author : Hendra Wijaya

datePublished : 9/22/2020 05:19:00 AM

Organization : IKHWANFILLAH.COM

logo ikhwanfillah

Url : https://www.ikhwanfillah.com/2020/09/kesaksian-orang-muslim-pada-janazah.html

Share: